”Ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan ummatku, lalu mempersukar (urusan) mereka, maka persukarlah mereka. Dan siapa yang mengurusi ummatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah mereka.” (HR. Muslim).
Dikisahkan seorang lelaki dari turunan ’Ali (’Ali bin Abi Thalib) mengungsi ke suatu negeri asing. Dia membawa keluarga, istri, dan putra-putrinya. Mereka hidup dalam kecukupan dan berkesenangan. Hingga suatu ketika Sang suami meninggal dunia. Sejak saat itulah istri dan putra-putrinya hidup dalam kefakiran dan kesusahan.
Karena khawatir ancaman musuh, yang membenci anak keturunan ’Ali, wanita itu membawa putra-putrinya mengungsi. Dinginnya cuaca menyebabkan wanita itu meletakkan anaknya di sebuah masjid yang sudah tidak digunakan lagi. Selanjutnya wanita itu pergi mencari makanan, melewati dua rumah. Sebuah rumah milik seorang muslim yang menjabat sebagai kepala kampung. Dan rumah satunya milik seorang majusi yang menjadi penanggung jawab di kampung itu. Wanita itu mendatangi rumah si muslim terlebih dahulu. Diceritakannya keadaannya, dan mengatakan bahwa dia adalah salah seorang keluarga ’Ali yang terhormat, yang membutuhkan makanan untuk anak-anaknya. Namun jawaban si muslim pemilik rumah sungguh di luar dugaannya. ”Tunjukkan dalil dan bukti bahwa kamu dari keluarga ’Ali yang terhormat itu,” kata si muslim. Wanita itu menjawab: ”Aku adalah wanita asing, tidak ada seorangpun mengenalku di kampung ini.” Maka lelaki muslim itu menolak permintaan wanita itu. Maka Si wanita keluar dengan rasa kecewa dan sedih.
Selanjutnya wanita itu mendatangi rumah Si majusi dan menceritakan keadaannya. Mendengar cerita wanita itu Si majusi bangkit dan menyuruh isterinya untuk menyediakan makanan dan membawa anak-anak wanita itu untuk menginap di rumahnya. Selanjutnya wanita dan anaknya itu diperlakukan dengan penuh kenikmatan dan kehormatan.
Saat tengah malam si muslim bermimpi didalam tidurnya, seolah kiamat telah tiba dan bendera telah dikibarkan di atas kepala Nabi saw. Dalam mimpinya dia melihat istana dari batu zamrud hijau, terasnya terbuat dari mutiara dan permata. Atapnya berbentuk kubah dari mutiara dan batu merjan. Si muslim bertanya kepada Rasulullah: ”Ya Rasulullah milik siapakah istana ini ?” Rasulullah menjawab: ”Milik seorang muslim yang meng-Esakan Tuhannya.” Si muslim menjawab: ” Ya Rasulullah aku seorang muslim yang meng-Esakan Tuhan.” Rasulullah bertanya: ”Tunjukkan bukti dan dalilnya bahwa engkau seorang muslim yang meng-Esakan Tuhanmu.” Si muslim itu terdiam kebingungan. Rasulullah berkata: ”Saat wanita keluarga ’Ali datang kepadamu, engkau mengatakan tunjukkan bukti dan dalilnya bahwa engkau termasuk keluarga ’Ali. Demikian juga sekarang tunjukkan bukti dan dalilnya bahwa engkau seorang muslim!” Maka terbangunlah syeikh itu dari tidurnya. Dia menyesal telah menolak wanita janda yang malang itu.
Keesokan harinya, dia berkeliling desa menanyakan keberadaan wanita itu. Akhirnya dia mengetahui bahwa wanita itu berada dirumah Si majusi. Dia berkata kepada Si majusi: ”Aku menginginkan wanita dari keluarga ’Ali dan anak-anaknya.” Si majusi menjawab: ”Tidak ada jalan bagimu untuk itu, sungguh mereka telah mendatangkan berkah bagiku.” Si muslim memohon: ”Terimalah uang seribu dinar (uang emas) ini dan serahkan mereka kepadaku.” Si majusi menjawab: ”Aku tidak akan melakukannya.” Si muslim mendesak: ”Aku harus mendapatkan mereka.” Si majusi menjawab: ”Aku lebih berhak memilikinya. Istana yang kamu lihat dalam mimpimu diciptakan untukku. Wanita itu telah menunjukkan kepadaku tentang Islam. Demi Allah sebelum tidur semalam aku dan keluargaku telah masuk Islam dengan bimbingan wanita itu. Dan aku melihat dalam mimpiku persis seperti apa yang kau lihat dalam mimpimu. Beliau rasulullah saw bertanya kepadaku: ”Apakah wanita Alawiyyah dan anak-anaknya tinggal di rumahmu?” Aku menjawab: ”Benar ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda: ”Istana ini untukmu, dan keluargamu termasuk penghuni surga. Allah telah menjadikan engkau dan keluargamu menjadi muslim sejak jaman azali.”
Mendengar cerita si majusi itu si muslim keluar dengan perasaan sedih dan penyesalan yang tiada terkira. ( Al Jundi, 101 Kisah Teladan, cetakan IX, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2004).
Haram neraka buat yang suka meringankan
Sikap suka menolong atau meringankan beban orang lain adalah sikap yang terpuji karenanya mereka yang melakukan sikap yang demikian diharamkan oleh Allah masuk ke dalam neraka. Artinya mereka yang memiliki sikap suka menolong atau meringankan beban orang lain tidak lain tempatnya adalah sorga. Rasul bersabda: ”Inginkah kuberitahukan kepadamu orang yang diharamkan masuk ke dalam neraka? Itulah mereka yang lembut, mereka yang (suka) meringankan (urusan orang), mereka yang tenang dan mereka yang yang baik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi)
Sebaliknya mereka yang diamanati Allah mengatur kepentingan kaum muslimin, mulai dari kepala negara, menteri, direktur perusahaan hingga manajer, tetapi dia masa bodoh dari hajat kepentingan mereka itu, maka Allah akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasul saw berikut: “Siapa yang diamanati Allah mengatur kepentingan kaum muslimin, (tetapi dia masa bodoh dari hajat kepentingan itu), maka Allah akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang masa bodoh dengan masalah ummat dan mempersukar kehidupannya dengan membuat berbagai aturan dan kebijakan yang membebankan. Tugas pemimpin menurut Islam adalah: memperhatikan, mengurusi, memfasilitasi hajat hidup ummat, mengendalikan dan menasehatinya. Tugas ini harus dilakukan dengan penuh kesunggguhan dan sikap lemah lembut sehingga ummat akan selalu berada pada jalan Allah. Rasulullah saw berdoa: “Ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan ummatku, lalu mempersukar (urusan) mereka (ummatku), maka persukarlah mereka. Dan siapa yang mengurusi ummatku lalu berlemah lembut (bersabar dalam pengurusannya itu) pada mereka, maka permudahlah (urusan) mereka.”(HR. Muslim). Dalam hadits yang lain Rasul saw bersabda: “Tiada seorang yang diamanati Allah memimpin rakyat, (tetapi dalam menjalankan kepemimpinannya) tidak disertai pengawasan dan nasehat yang baik maka dia tidak akan mendapat baunya sorga.”(HR. Bukhary dan Muslim).
“Tiada seorang amir (pemimpin) yang mengawasi urusan kaum muslimin, tetapi tidak bersungguh-sungguh menasehati dan memperhatikan hajat mereka maka dia tidak akan masuk sorga bersama mereka.” (HR. Muslim).
Pemimpin yang baik menurut Islam
Pemimpin yang baik menurut Islam berdasar hadits sebelumnya adalah mereka yang tidak berpura-pura tidak tahu akan urusan ummat, atau menyembunyikan hajat kepentingan mereka. Terhadap pemimpin yang berpura-pura tidak tahu akan urusan ummat, atau menyembunyikan hajat kepentingan mereka Allah mengancam akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari kiamat kelak. Demikian pula pemimpin yang kerjanya menipu rakyatnya. Pemimpin yang baik menurut Islam adalah mereka yang merendahkan sikap terhadap rakyatnya yang beriman. Allah berfirman:

“Rendahkan sikapmu terhadap pengikutmu dari kaum mukminin (QS. Al Hijr: 88)
Rasul saw bersabda: “Tiada seorang yang diamanati Allah memimpin rakyat, kemudian kematian datang kepadanya sementara ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya sorga.”(HR. Bukhary dan Muslim).
Berdasar ayat dan hadits-hadits tadi maka tugas utama dari pemimpin adalah memperhatikan mengurusi (memfasilitasi) ummat dan berlemah lembut kepada mereka, bukan mempersukarnya atau menipunya. Ungkapan “kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah”, adalah ungkapan dari seorang yang tidak mengerti akan fungsi dan kewajiban seorang pemimpin.
Untuk mempermudah urusan ummat perlu ada kebijakan yang menunjangnya dalam berusaha, bekerja, bermitra atau bersyarikat dan mengungkapkan pendapat dan fikirannya. Untuk mencegah agar kebijakan itu dapat berjalan pemimpin juga perlu menyiapkan kebijakan untuk menindak mereka yang menghambat urusan ummat, seperti abdi negara yang terlalu bertele-tele untuk mendapat komisi atas tugas yang menjadi kewajibannya, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Untuk itu penegakan hukum adalah sangat penting, demikian pula pendidikan bagi rakyat agar tahu hukum, dan sebagainya. Itu sebabnya dibutuhkan pemimpin yang berpihak kepada rakyat dan mau membimbing rakyat dengan kesungguhan dan kesabaran yang amat sangat. Tugas itu baru dapat dijalankan bila pemimpin bila pemimpin bekerja dengan sungguh-sungguh dan dilandasi nuraninya yang bersih.
Rasulullah saw bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya dari hal rakyat yang dipimpinnya,” (HR. Bukhary dan Muslim). Termasuk hal rakyat yang dipimpinnya adalah bagaimana rakyatnya dapat menjalankan kewajiban agamanya, termasuk pendidikannya, kesejahteraannya, keamanannya, kenyamanannya sehingga kewajiban agamanya itu dapat dilakukan dengan baik.
Penutup
Bila para pemimpin menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab yang dijalankan dengan jujur, berani, dan cerdas. Bila kita semua bertugas meringankan bukan menambah masalah, melayani bukan membebani, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, maka insya Allah masalah sebesar apapun akan terasa ringan. Bila kita semua sesama warga bangsa berpartisipasi menjalankan tugas meringankan bukan menambah masalah maka negara yang baik yang kehidupan rakyatnya tertata baik, tenteram adil dan makmur tentu akan tercapai. Bila kita semua sesama warga bangsa berpartisipasi menjalankan tugas meringankan bukan menambah masalah maka masyarakat yang gemah ripah loh jinawi toto tenterem adil makmur tentu akan tercapai. Apalagi bila kita semua sesama warga bangsa berpartisipasi menjalankan tugas meringankan bukan menambah masalah berdasar iman yang kuat kepada Allah, tentulah masyarakat rahmat bagi semua (rahmatan lil ‘alamin) akan dapat dicapai. Semoga kita dapat memberikan kontribusi untuk terciptanya masyarakat yang baik itu, sebesar apapun kontribusi kita. Amin.
