EFISIENSI   SEBAGAI   ETIKA   PEMANFAATAN   DAN PENGEMBANGAN   SUMBER  DAYA  YANG   BERKELANJUTAN

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. 17 Al  Israa’ : 26-27)

   Ketika  Khalid  bin Walid  memberikan  hadiah  pada penulis syair yang memuji-muji  dirinya,  ’Umar  bin Khattab  sebagai khalifah  waktu  itu  langsung memecatnya. Alasan  ’Umar:  ”Kalau  Khalid  memberi  hadiah  itu (dananya)  berasal   dari harta pribadi dirinya  itu  adalah  pemborosan.  Sebaliknya  kalau  dia  memberi  hadiah itu  (dananya)  berasal  dari  harta rampasan perang  berarti  Khalid  telah melakukan  penyimpangan  atau korupsi.  Apapun  yang dilakukannya,  keduanya  adalah  pemborosan.  Dan  boros  adalah  suatu  kesalahan.”  Demikian  alasan  ’Umar  bin  Khattab. 

   Setelah  menyelesaikan tugasnya  Khalidpun  datang  menghadap.  Khalid  berkata: ” Oh ’Umar sungguh engkau  telah berlaku  zalim padaku.”  ’Umar  menjawab: ”O  Khalid  sesungguhnya  aku  sangat  sayang dan  menghormatimu,  darimana  kau  dapat  dana  untuk  memberi  hadiah mereka  yang menulis (syair)?”  ”Dari  uang pribadiku”,  jawab Khalid. 

Islam  dan   Efisiensi

      Kisah  di atas  mengisahkan bagaimana Kahlifah ‘Umar yang  anti pemborosan.  Dan  Islam  adalah  agama  yang  anti pada pemborosan (pemubadziran). Dengan  kata lain  Islam  sangat  memperhatikan  hidup  yang  hemat   atau  efisien. Efisien  diartikan  sebagai  hemat  dalam pemakaian sumber  daya  tetapi  menghasilkan  hasil  yang maksimal. Drucker  menyatakan  bahwa  efisien  berarti  mengerjakan sesuatu dengan cara  yang  benar (doing things  right).    Buya Prof  Dr. Hamka dalam Tafsir Al Azhar Juz 15 memberikan definisi mubadzir sebagai boros. Beliau mengutip  pengertian  mubadzir dari ulama  lainnya  sebagai berikut:

       Imam Syafi’i menyatakan mubadzir itu membelanjakan harta bukan pada jalannya. Imam  Malik  menyatakan  bahwa  mubadzir  itu ialah mengambil harta dari jalan yang pantas, tetapi mengeluarkannya  dengan   jalan  yang tidak pantas. Qatadah menyatakan Tabdzir (akar kata dari  mubadzir) adalah  menafkahkan harta  pada jalan maksiyat   kepada  Allah,  atau  pada jalan yang salah  dan  merusak.

     Beberapa  pakar dalam dunia  industri   memberikan pengertian  pemborosan sebagai berikut:

     Fujio Cho (dari  Toyota) menyatakan: “Pemborosan adalah segala sesuatu yang berlebih di luar kebutuhan minimum atas peralatan, bahan, komponen, tempat  dan waktu kerja yang mutlak diperlukan untuk proses nilai tambah suatu produk.”

       Henry Ford darimana Toyota belajar  menyatakan: “Pemborosan adalah sesuatu (aktivitas) yang tidak memberikan nilai tambah.”

       Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pemborosan  adalah suatu aktivitas yang tidak lagi  menghasilkan nilai tambah, baik buat diri sendiri   maupun lingkungan, bahkan  malah  merugikan diri sendiri  maupun lingkungannya.  Oleh karena  itu  perbuatan  mubadzir  termasuk  sebagai  perbuatan  yang sia-sia,  dan  termasuk  saudaranya syaitan.  Allah berfirman:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. 17 Al  Israa’: 26-27)

     Berdasar  ayat   dan  keterangan para  ahli  dan ‘ulama itu  maka  ajaran Islam jelas  sangat  membenci  adanya  pemborosan dalam penggunaan sumber daya yang kita miliki. Bahkan  Islam mengelompokkan mereka yang melakukan perbuatan  mubadzir  sebagai  temannya syaitan, suatu makhluk  yang  paling terkutuk,  yang  ingkar kepada kebenaran. 

Keinginan itu  tanpa  batas,  namun sumber  daya   terbatas

     Kemajuan  teknologi  terbukti  telah  memberikan kontribusi ke arah   kemajuan, berupa  peningkatan  produksi   dan  nilai  tambah.  Namun  hal  itu  terbatas  pada  produksi   sumber  daya (manusia, bahan baku, dana, metode, mesin, informasi)  yang dapat diperbarui  (renewable).  Adapun  untuk  sumber  daya yang  tidak dapat  diperbarui  (non renewable)  peningkatan  produksi  hanya  mempercepat  proses  habisnya  sumber daya  tersebut.  Namun  sehebat  apapun  kemajuan teknologi  pertumbuhan  produksi yang  dihasilkannya  sangatlah terbatas bila  dibandingkan  dengan  keinginan  manusia yang serakah.  Maka  agar   kebutuhan  manusia  selalu  tercukupi  sejalan  dengan kemajuan  teknologi  tidak  lain caranya  adalah  dengan  mengerem  segala  keinginannya  dengan cara  berhemat  atau  hidup lebih efisien.  Karena  secanggih apapun juga  kemajuan  teknologi yang  ada,  pertumbuhan berupa  nilai  tambah  yang dihasilkannya  sangat  terbatas.  Sebagaimana  Allah  mengarahkan  kita  dalam  cara  makan dan  minum  yang  tidak boleh  berlebihan, dengan  firman-Nya:

 “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah  di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah  berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. 7  Al A’Raaf: 31)

      Pengeksplotasian  sumber  daya  yang  ada  tanpa  terkontrol akibat  kemajuan teknologi  hanya  akan mendatangkan  bencana  bagi  kita  sendiri.  Fenomena  bencana  tsunami,  banjir  bandang,  longsoran tanah, lumpur  panas  yang menenggelamkan  sebagian  kota  Porong Sidoarjo  adalah  beberapa  contoh  akibat  negatif  dari sikap serakah  kita  dalam mengeksploitasi  sumber  daya  alam  yang kita miliki.  Oleh  karena  itu  Maha benar  Allah  yang telah berfirman:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. 30  Ar Rum : 41)

      Rambu-rambu  ajaran   Islam  bukan hanya  untuk  hal-hal   yang besar  saja, bahkan untuk  urusan  pribadi  sekalipun,   seperti  makan  dan  minum    Islam juga memiliki aturan.   Krisis  pangan  yang  kita  alami  sekarang  adalah  menyangkut  urusan  makan  dan minum  seluruh  penduduk  bumi.  Allah  berfirman:  “maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”(QS. 80  ‘Abasa : 24)

       Memperhatikan  makanannya  disini  bukan  sekedar  kualitas  gizi  dan jumlahnya,  empat  sehat  lima  sempurna.  Tetapi  juga  menyangkut  cara  mendapatkannya,  memproduksinya,  mengolahnya  dan tentu  saja  mendistribusikannya.  Yang terakhir  ini  yang sering menjadi  masalah  dunia  yakni  kelaparan  dan berjangkitnya  penyakit. Karena  makanan  tidak terdistribusi   secara  merata terjadi  kelaparan  di sebagian dunia.  Maka  muncullah  berbagai  bencana  mulai  dari  alam  yang  marah  hingga  muncul  berbagai  penyakit.  Di sebagian dunia  yang kurang  muncul penyakit:  busung  lapar   dan   kurang gizi.  Sementara  di sebagian dunia  lainnya  terjadi   kelebihan  makanan, muncul  pula   penyakit:  obesitas, kolesterol,  penyakit  jantung   dan   lain-lain.   Maka  Maha  Benarlah  Allah  yang  menyuruh kita  agar  memperhatikan  makanan  kita.

        Namun  sayangnya manusia sering  lalai  dan lupa  akan  kewajibannya  bila  kesempatan  meraih  target  keuntungan  dunia  di depan mata.    Dan  baru  berhenti   ketika  kematian  datang kepadanya, sebagaimana  firman Allah  berikut:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”   (QS. At- Takatsur: 1-2)

Penutup

       Terjadinya  krisis  sumber  daya  yang  ada  di dunia  ini  umumnya  karena  keserakahan  sekelompok  manusia  terutama  para  pemilik  modal  (kapitalis).  Mereka  mengeksploitasi  sumber  daya  yang ada  tanpa  memperhatikan  rambu-rambu  yang  ada, baik  berupa  etika  bisnis  ataupun   tanggungjawab perusahaan (corporate  responsibility)  yang  memadai.  Diakui  bahwa  kemajuan  teknologi  memang  telah  memberikan  nilai  tambah  tetapi   berkah   nilai  tambah  ini   belum  terdistribusi  dengan  baik.  Karena  kemajuan  teknologi  hanya  dinikmati  oleh mereka   yang  memiliki modal.  Kalau   situasi   seperti   ini  tidak cepat  dicegah   maka    krisis   sumber  daya    di dunia  akan  terus  terjadi.   Yang berarti  jurang  kaya  miskin  akan tetap  ada.

      Islam  mengajarkan  hidup  hemat  beretika.  Mengamalkan  ajaran  Islam  adalah  sebagai  jalan keluar  menghadapi  krisis  dunia  seperti  ini, karena  ajaran Islam  sarat  dengan  nilai  dan etika  untuk   dapat   hidup  damai  dan sejahtera.  Namun  untuk  dapat  hidup  berkualitas  seperti  itu  ada  syaratnya  yakni    iman  dan  takwa, sehinga  hidup  yang dijalani   selalu   ingat  dan  waspada, agar  aman dari adzab  Allah.  Allah berfirman:

“Dan   sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah (sumber daya) dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS. 7  Al A’raaf : 96)

“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (belajar lagi)? .”(QS. 7  Al A’raaf : 100)

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”(QS. 7  Al A’raaf : 99)       Semoga  kita  termasuk  hamba  Allah  yang beriman  dan bertakwa, sehingga     selalu   ingat  dan  waspada, dengan  cara  hidup  hemat   tidak berlebihan  agar  dapat   hidup  aman  dari  adzab  Allah.  Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *