ISLAM  MENYURUH  KITA  BEKERJA

“Maka  apabila shalat  telah ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu  beruntung.” (QS.  62  Al  Jumu’ah : 10)

Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah yang dikenal  dengan    Imam  Hanafi  (699 M-769M)  sedang berjalan-jalan  melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka.  Dari   dalam  rumah  terdengar  suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Keluhannya: "Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak  pagi  belum datang sesuap makananpun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, manakah hati yang belas ikhsan yang sudi memberi curahan air walaupun  hanya  setitik."

       Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah merasa kasihan lalu beliau pun kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah  bungkusan berisi   uang  yang  hendak diberikan kepada orang itu. Sesampai di  rumah orang itu, Abu Hanifah  langsung  melemparkan bungkusan berisi uang itu  kepada si hamba  malang tadi lalu meneruskan perjalanannya. Hamba  yang   malang  itu   merasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas dengan  tergesa-gesa  dibukanya  bungkusan itu.  Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi uang dan secarik  kertas yang bertulis: " Wahai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu. 

     “Sesungguhnya  kamu tidak perlu mengeluhkan  peruntungan  nasibmu.  Ingatlah akan  kemurahan Allah dan cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Janganlah pernah  berputus asa  kawan,  berusahalah terus."

       Keesokan  harinya, Imam Abu Hanifah kembali  melalui  rumah orang  malang  itu dan kembali  suara keluhan itu terdengar.  Keluhannya: "Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya Engkau memberikan bungkusan lain seperti yang  kemarin,  sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau  tidak memberikan, akan semakin   sengsaralah hidupku."

       Mendengar  keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun melemparkan bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari   luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Mendapat  bungkusan  itu  orang itu  menjadi  riang kemudian    membukanya.

      Seperti yang  lalu, di dalam bungkusan itu ada secarik  kertas   berisi   nasehat,  lalu dibacanya, "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha.  Sesungguhnya    Allah   tidak   ridha  melihat  orang yang  pemalas dan suka   berputus asa, yang  enggan bekerja untuk mencukupi   kebutuhan  dirinya. Janganlah  bersikap  demikian. Bila  engkau  hendak  hidup  senang   engkau  harus  bekerja dan berusaha karena kesenangan itu tidak  datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak boleh  duduk   berdiam    diri  tetapi harus bekerja dan berusaha. Sesungguhnya  Allah  tidak  akan memperkenankan permohonan orang yang malas   dalam  bekerja. Sungguh  Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin sambil  berdoa  mengharap   pertolongan Allah. Insya Allah, akan   engkau  dapatkan   pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa. Nah carilah segera pekerjaan, saya doakan  agar   engkau   sukses."

      Selesai  membaca surat itu, orang  malang  itu   termenung, dia insaf dan sadar akan kemalasannya selama ini. Keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti  peraturan-peraturan hidup (Sunnah Tuhan) dan tidak lagi melupai nasihat orang yang memberikan nasihat itu.  Memang  dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh mereka yang berakal sempit. Padahal  Islam mengajarkan kita untuk maju ke depan menjadi  orang  yang bermanfaat,   bukan  berdiam diri  menyerah  kepada  nasib.

Perintah  Bekerja   dalam   Islam 

       Kisah  di atas  menggambarkan  bahwa  seorang   hamba  Allah  yang baik  seharusnya  tidak boleh     berdiam    diri   berpangku  tangan  sambil   menyesali  nasib     tetapi   harus  bekerja   dan   berusaha  sambil  berdoa,  apalagi  bila  ingin    hidupnya   senang   dan   terjamin.    Karena  sesungguhnya   hidup yang   senang  dengan   rezeki  lebih   terjamin  tidak  datang   dengan  sendirinya,   tanpa   dicari   atau  diusahakan   tetapi   harus   diperoleh   dengan  berikhtiar,  bekerja  dan berdoa.  Oleh karenanya Islam   sangat menghargai   mereka   yang makan  dari hasil keringat   dan   tangannya   sendiri.   Rasul  saw  bersabda: "Tidaklah ada makanan   seseorang itu yang lebih baik  daripada  apa   yang  dimakannya dari hasil usaha tangannya sendiri.  Sesungguhnya Nabi Daud a.s., makan dari hasil usahanya sendiri.” (H.R. Bukhari)

     Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad saw bersabda: “Sesungguhnya Nabi Daud a.s., tidak makan kecuali dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)

     Dari Abu Hurairah r.a. pula, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Nabi Zakariya 'alaihis-salam itu adalah seorang tukang kayu." (HR. Muslim) 

     Dari al-Miqdad bin Ma'dikariba r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan, sekalipun sedikit, yang lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil usaha tangannya dan sesungguhnya Nabiullah Dawud 'alaihis-salam itu juga makan dari hasil usaha tangannya." (HR. Bukhari)

      Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

      Dari Abu Abdullah Az-Zubair bin Al-‘Awwam r.a., ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka diberi ataupun tidak.” (HR. Bukhari)

      “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah (HR. Ahmad & Ibnu Asakir )

      Rasulullah saw pernah ditanya, Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjawab: “Pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perniagaan yang dianggap baik.” (HR Ahmad dan Baihaqi).

       Namun  dalam  bekerjapun  bukan  hanya  sekedar  bekerja   tetapi   harus  bekerja  dengan  cara    yang  baik   (beramal   shaleh)  didasarkan  iman  agar  hidup  kita  tidak   dihitung  merugi.   Karena  Allah  SWT   berfirman:  “Demi masa.  Sesungguhnya  manusia  itu  benar-benar  berada   dalam  kerugian,  kecuali orang-orang yang  beriman  dan   bekerja  dengan  baik dan nasihat   menasihati    supaya   mentaati kebenaran dan nasihat menasihati  supaya   menetapi    kesabaran.”  (QS.  Al Ashr :  1-3)

       Bekerja  atau  berbuat   dalam  bahasa   Al  Qur’annya  adalah   ‘amila,  ya’malu,   amalan   serta    semua  bentuk  perubahannya.   Bekerja  dalam  Islam   berarti   melakukan  setiap  aktivitas  yang dapat  menghasilkan  manfaat  (nilai  tambah)  baik  bagi  mereka  yang  melakukannya   maupun buat   orang  lain.    Dalam   Islam   perintah  bekerja  atau  berbuat  untuk  memperoleh   dan  menghasilkan   manfaat  atau nilai  tambah (rezeki)   banyak  kita  dapati  dalam  Al  Qur’an  dan hadits  Rasul saw. 

       Bekerja menurut Islam dapat   dilakukan   dalam  segala bidang  kegiatan  ekonomi selama  dibolehkan oleh aturan  syari’at,  baik  bekerja  mulai   dari   yang  nampaknya  sederhana  semisal  tukang sapu   hingga  bekerja   yang  nampaknya   canggih,  sebagai   kepala Negara. Dengan  demikian   aktivitas    bekerja  pada  setiap  orang  menjadi  berbeda-beda  tergantung  pada  fungsi   dan  jabatan  seseorang.  Disinilah   perlunya   saling bantu  membantu   dan   isi  mengisi   untuk   dapat  memenuhi   kebutuhannya  masing-masing.   Oleh  karenanya  adalah wajar  mereka   yang   bekerja  atau   yang diperlukan  jasanya   diperbolehkan    menerima  balasan  berupa    upah   atau  bayaran  dengan  dasar  saling meridhai. 

Ayat  dan  hadits    tentang  kerja  

      Berikut   adalah  beberapa  ayat  dan  hadits  Rasul   saw  yang  ada   hubungannya   dengan    kerja.   Allah  berfirman: “Maka  apabila shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu sukses.” (QS.  62  Al  Jumu’ah : 10)

      “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan bekerjalah yang baik. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “(QS. 23  Al  Mukminun  :  51).

      Katakanlah:  "Hai kaumku, bekerjalah  sekuat  kemampuanmu, sesungguhnya  aku  pun  berbuat  (pula). Kelak  kamu  akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh  hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan. (QS. 6   Al  An’am : 135)

      “Bekerjalah   hai   keluarga  (Raja  dan  Nabi)   Daud   sebagai  ungkapan   syukur (kepada Allah). Sayangnya   sedikit sekali dari hamba-hamba- Ku  yang berterima kasih.” (QS. 34  Saba :  13)

       Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".(QS. 9 At Taubah : 105)

      “Barang  siapa  yang   ingkar (tidak mau  bekerja  dengan baik)  maka  dia  sendirilah   yang  akan  menanggung (akibat) pengingkarannya itu; dan barang siapa yang bekerja   dengan  baik  maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang   menyenangkan), agar Allah memberi pahala  orang-orang yang beriman dan bekerja  dengan  baik   dari  karunia-Nya.  Sesungguhnya  Dia  tidak  menyukai  orang-orang   yang  ingkar.”  (QS. 30  Ar  Rum :  44-45)

        Rasul   saw  bersabda: “Allah tidak menerima iman tanpa  perbuatan  dan tidak pula menerima perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani)  Rasul   saw  bersabda: “Sesungguhnya jika Allah Ta'ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka dia dikaryakan mereka.  Para   sahabat  lalu bertanya tentang sabda Nabi saw tersebut, "Bagaimana dikaryakannya itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Diberinya taufiq untuk bekerja  dengan baik sebelum wafatnya." (Mashabih Assunnah)

       Rasul   saw  bersabda: “Dunia dihuni empat macam manusia. Pertama, seorang hamba yang   Allah beri   dia  harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Tuhannya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia memiliki  kedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang Allah  beri  ilmu pengetahuan saja, tetapi   tidak diberi harta, walaupun  demikian dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh,  jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah sama. Ketiga, seorang hamba yang  diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan melampaui batas  (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan-hamburkan uang, berfoya-foya dengan membabi-buta  sebagaimana manusia ketiga, maka kedudukan keduanya sama (buruknya).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Rasul   saw  bersabda: “Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari) Rasul   saw  bersabda: “Lakukan apa yang mampu kamu amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sehingga kamu sendiri yang  jemu. (HR. Bukhari)  Rasul   saw juga bersabda: “Amalkan semua yang diwajibkan (difardhukan) Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling bertakwa.” (Ath-Thahawi)

Penutup

     Islam  mewajibkan setiap  muslim  bekerja.  Namun bekerja  bukan sekedar  bekerja,  tetapi bekerja yang baik didasarkan iman  kepada  Allah.  Agar  apa  yang kita  lakukan tidak dihitung  sia-sia.

      Sebagai  penutup  marilah kita  renungkan sabda Rasul   saw  berikut: “Seorang yang kurang amalan-amalan  (kerjanya) maka Allah akan timpakan   kepadanya kegelisahan dan kesedihan. “(HR. Ahmad)  Seorang sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?" Nabi saw menjawab: "Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya." Dia bertanya lagi, "Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?" Nabi Saw menjawab, "Itulah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya." (HR. Ath-Thabrani)

     Semoga  kita  terhindar  dari menjadi hamba  yang panjang usianya tetapi  jelek amal perbuatannya. Semoga  Allah  mengabulkan do’a kita.  Amin.

BIODATA   PENULIS

Dr. Yan Orgianus adalah staf pengajar pada Program Studi Teknik Industri  dan  Program Magister Manajemen (MM) Universitas Islam Bandung (Unisba) serta dosen Etika dan Bank Islam pada Program Sarjana dan Program Magister Manajemen Bisnis Administrasi dan Teknologi Institut Teknologi Bandung (MMBAT-ITB). Beliau juga Ketua Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Manajemen Syari’ah (LPES) Masjid Salman  ITB.

Pendidikan sarjana beliau peroleh dari Jurusan Teknik Geologi ITB dengan Tugas Akhir nilai ekonomi Geologi Batubara di Pembakaran Banten Selatan (1987). Pendidikan Magisternya diperoleh dari Jurusan Teknik dan Manajemen Industri ITB dengan thesis: Sistem Kontrol Bank Islam (1992). Sedangkan pendidikan Doktornya diperoleh dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan disertasi: Rekayasa Model Bagi Hasil dan Bagi Resiko Usaha Kecil  Menengah Agroindustri dengan Pola Syari’ah (Penemu Model Bagi Hasil dan Bagi Resiko Usaha yang  dinamakan  Metode  Yanbagher, 2004).

Selain menjabat sebagai Ketua LPES (2007– sekarang), beliau juga menjadi anggota  Ikatan Ahli  Ekonomi Islam  (IAEI)  dan  Komite  Energi, Pertambangan dan Manufaktur Masyarakat Ekonomi Syari’ah (MES) Pusat  (2012–sekarang). Sebagai dosen, mata kuliah yang beliau ajarkan antara lain: Desain Organisasi dan Manajemen  Strategi   Industri, Islam Disiplin Ilmu (IDI) Teknik Industri; Etika  Islam;  Perilaku Organisasi,  Bank dan Manajemen Perbankan Syari’ah  serta  Metodologi  Pengambilan  Keputusan Kuantitatif  dalam  Manajemen.

Jabatan lain yang masih dijabatnya adalah Pemimpin Redaksi: Soeara Jabal Rahmah; Tafsir IPTEKS Kontemporer Al Qur’an Misykat dan Jurnal Ekonomi dan Manajemen Syari’ah (EMAS). Selain itu juga beliau menjabat sebagai ketua Koperasi ISTEK Bandung. Pada buletin dan koperasi inilah dituangkan dan  dipraktekkan ilmu yang dipelajari dan diajarkannya di kampus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *