Oleh
Hendi Suhendi
(Dosen Fakultas Dakwah Unisba, Pengelola Baitul Maal Unisba)
Fenomena pilpres menarik perhatian semua masyarakat Indonesia. Terlebih setelah pelaksanaan debat capres-cawapres dari yang pertama sampai ketiga tanggal 7 Januari 2024. Namun sayang, fanatisme yang berlebihan masih saja menjadi tontonan. Ujaran kebencian dengan saling mencela, menghina, memaki, kasar seolah-olah hal wajar dan biasa saja. Menggunakan hak pilih dan terlibat dalam pemilihan itu penting, dukung-mendukung itu boleh, tetapi apakah mendukung salah satu capres-cawapres, harus mencaci pasangan yang lainya?. Bukankah semua masyarakat menginginkan yang terpilih itu yang terbaik, maka jadilah pendukung yang baik. Karena menghina, mencela, kasar, memaki adalah bentuk kezaliman. Untuk itu stop kezaliman.
Kezaliman adalah perbuatan tidak terpuji yang dilarang oleh Allah SWT. Berbuat zalim memiliki makna berbuat tercela yang begitu banyak ragamnya. Pertama, zalim kepada Allah SWT karena kekufurannya, mendustakan Allah dan rasulNya. Kedua, zalim kepada sesama manusia. Kezaliman ini juga dibenci Allah SWT. Bentuk kezaliman kepada sesama manusia begitu banyak, seperti mencela, memfitnah, menyiksa, mengambil harta tanpa hak, berlaku kejam, dan berlaku tidak adil. Kezaliman jenis ini amat merugikan manusia yang lain. Ketiga adalah zalim kepada diri sendiri. Manusia juga bisa berbuat zalim kepada dirinya. Mengotori pikiran dan jiwanya dengan dosa merupakan kezaliman kepada diri sendiri yang berakibat sangat merugikan.
Terlebih saat ini berada di bulan Rajab yang masuk pada empat bulan haram. Sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya QS. At Taubah 36 : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”
Sebagian ahli tafsir menjelaskan, ayat tersebut memberikan penekanan bahwa kezaliman dalam bulan-bulan haram itu lebih tegas dan jelas dosanya daripada bulan-bulan lainnya, sebagaimana kemaksiatan di kota suci itu berlipat ganda dosanya (Tafsir Ibnu Katsir). Juga penjelasan lainnya, bahwa kezaliman di dalam bulan-bulan tersebut tingkat keharamannya bertambah dan dikarenakan perbuatan zalim padanya lebih parah dibandingkan bulan lainnya, tetapi bukan berarti kezaliman di bulan lain boleh (Tafsir Al-Muyassar). Jadi sekali lagi stop kezaliman dan jadilah khairu ummah.
Terminologi khairu ummah (umat terbaik) adalah sebutan yang diberikan Allah SWT secara eksklusif kepada umat pemeluk “dinul-Islam”. Sebutan ideal itu diabadikan Allah SWT dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 110. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Khairu ummah merupakan konsep kehidupan umat yang unggul dan berperadaban maju. Khairu ummah digambarkan dengan potret kondisi umat yang maju dari segi ekonomi, memiliki kesadaran dan kepedulian sosial, bijak dan cerdas dalam merespons wacana politik, serta maju dalam bidang iptek (Risfan : 2022). Khairu ummah adalah pribadi-pribadi yang memiliki karakter akhlak mulia yaitu baik, jujur, terpercaya, dan menjadi orang yang tahu mana yang baik dan buruk.
Bagaimana cara menwujudkan Khairu ummah ? merujuk pada Qs. Ali Imran : 110, ada tiga acara yang Allah SWT sampaikan yakni : Pertama, Beriman kepada Allah SWT. Keimanan yang diwujudkan dalam bentuk ketaqwaan melalui amal sholeh sesuai tuntunan syariat. Iman dan taqwa adalah fondasi menuju kehidupan sosial kemasyarakat yang beradab. Kunci mencapai keberuntungan, QS.2:189. Jalan mendapatkan solusi atas segala permasalahan, QS.65:2. Syarat untuk mendapatkan keberkahan, QS.7:96.
Kedua. Mengajak pada kebaikan (dakwah). Mengajak, mendorong, memotivasi kebaikan kepada orang lain adalah kewajiban setiap umat Islam. Bukan hanya bertumpu kepada para ustad, da’i atau kiyai saja, karena hal ini Allah SWT tegaskan dalam QS.16:125. Dakwah bukan hanya ceramah, banyak metode yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Perkembangan teknologi seperti media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah. Ingatkan orang lain, ajak orang lain dan beri contoh kepada orang lain untuk berbuat kebaikan.
Ketiga. Mencegah kemungkaran. Pengingkaran terhadap aturan syariat harus di cegah, dihentikan. Membiarkan kemungkaran terjadi akan berdampak buruk bukan hanya bagi individu tapi bagi sistem sosial kemasyarakatan. Hal ini sebagaimana Allah SWT sampaikan dalam QS Al Maidah ayat 77-79. Selain itu, Rasulullah SAW pun memerintahkan untuk mencegah kemungkaran sesuai ungkapannya dalam hadits “Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman’.”
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengungkapkan dampak buruk dari membiarkan kemungkaran yakni : akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib juga mengingkari orang yang melakukan maksiat. Menganggap remeh perintah Allah. Perbuatan tersebut akan semakin merebak. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat, maka perbuatan maksiat akan dianggap bukan maksiat, bahkan nantinya bisa dianggap sebagai perbuatan baik. Kejelekan akan terus diikuti oleh yang lainnya dan akan terus seperti itu.
Untuk itu, mari kita renungkan, bahwa memilih pemimpin yang baik itu penting, tetapi menjadi pribadi-pribadi yang baik juga sangat penting. Dengan demikian, berusahalah menjadi Khairu ummah, agar kehadiran pemimpin yang baik dan rakyat yang baik berdasarkan iman dan taqwa akan membawa keberkahan bagi negeri yang kita cintai ini. Wallahu bissowab.
